Bandung - Untuk kepentingan inovasi teknologi, dana riset perguruan tinggi (PT) yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional sebaiknya dialokasikan juga untuk penelitian mahasiswa S-1. Di sisi lain, sinergi antara industri, PT, asosiasi, dan pemerintah merupakan kunci atas keberhasilan inovasi teknologi.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Widyo Nugroho Sulasdi menuturkan, selama ini mahasiswa program sarjana tidak mempunyai dana khusus untuk riset. ”Bantuan pembiayaan untuk riset baru untuk program magister, doktor, ataupun dosen,” katanya.
Oleh karena itu, kata dia, dalam hal ini penting bagi PT untuk memberikan alokasi tersendiri bagi mahasiswa S-1. Hal itu sejalan dengan banyaknya mahasiswa S-1 yang cerdas dalam menghasilkan inovasi teknologi yang potensial.
Terkait dengan sinergitas, menurut dia, antara PT, industri, asosiasi, dan pemerintah Indonesia masih sangat jauh. Hal itu, berbeda dengan Singapura dan Hong Kong. Di negara-negara tersebut telah terjalin kerja sama antara PT dan industri . ”Di kita PT dan industri masih berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan, hasil riset mahasiswa ITB berupa Malaria Observation System Endemic Surveillance (MOSES) yang mampu membantu penanganan penderita malaria dengan lebih cepat, belum mendapat respons dari pemangku kepentingan. “Itu hasil penelitian berdasarkan kondisi di Pameungpeuk Garut. Artinya, itu sebenarnya sangat bermanfaat untuk
masyarakat. Akan tetapi, tampaknya belum ada panggilan dari Depkes (Departemen Kesehatan),” ujarnya.
Padahal dengan sinergitas, menurut dia, akan lebih banyak hal positif yang bisa diraih oleh Indonesia. Sebagai contoh dalam kompetisi, tutur dia, apabila lembaga-lembaga tersebut bersinergi dan mempersiapkan inovasi teknologi lebih dini, kemungkinan besar mampu menembus gelar juara mengalahkan negara lain. (A-167/A-147)
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Widyo Nugroho Sulasdi menuturkan, selama ini mahasiswa program sarjana tidak mempunyai dana khusus untuk riset. ”Bantuan pembiayaan untuk riset baru untuk program magister, doktor, ataupun dosen,” katanya.
Oleh karena itu, kata dia, dalam hal ini penting bagi PT untuk memberikan alokasi tersendiri bagi mahasiswa S-1. Hal itu sejalan dengan banyaknya mahasiswa S-1 yang cerdas dalam menghasilkan inovasi teknologi yang potensial.
Terkait dengan sinergitas, menurut dia, antara PT, industri, asosiasi, dan pemerintah Indonesia masih sangat jauh. Hal itu, berbeda dengan Singapura dan Hong Kong. Di negara-negara tersebut telah terjalin kerja sama antara PT dan industri . ”Di kita PT dan industri masih berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan, hasil riset mahasiswa ITB berupa Malaria Observation System Endemic Surveillance (MOSES) yang mampu membantu penanganan penderita malaria dengan lebih cepat, belum mendapat respons dari pemangku kepentingan. “Itu hasil penelitian berdasarkan kondisi di Pameungpeuk Garut. Artinya, itu sebenarnya sangat bermanfaat untuk
masyarakat. Akan tetapi, tampaknya belum ada panggilan dari Depkes (Departemen Kesehatan),” ujarnya.
Padahal dengan sinergitas, menurut dia, akan lebih banyak hal positif yang bisa diraih oleh Indonesia. Sebagai contoh dalam kompetisi, tutur dia, apabila lembaga-lembaga tersebut bersinergi dan mempersiapkan inovasi teknologi lebih dini, kemungkinan besar mampu menembus gelar juara mengalahkan negara lain. (A-167/A-147)
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com


0 komentar:
Posting Komentar