Pendidikan seks bagi remaja

Author wong cilik Category
Penulis: faizah Fauzan, Betty A. Sirait

Indonesia boleh saja mengaku sebagai negara yang penduduknya religius. Tapi, tengoklah Data Survei Demogrofi dan Kesehatan Indonesia tahun 1997. Pada kelompok perempuan usia 15-19 tahun, sebanyak 9 persen pernah melahirkan bayi dengan 100 orang per 1.000 perempuan. Bandingkan dengan angka di Amerika yang hanya 62 orang per 1.000 perempuan. Wah... remaja Indonesia lebih bebas berhubungan seks?

Belum tentu. Angka di atas hanya menekankan pada perbandingan usia, bukan status pernikahan. Di Indonesia, terutama di daerah, banyak perempuan yang menikah pada usia dini. Cuma, tak bisa ditampik, sebagian remaja yang pernah melahirkan memang korban pergaulan bebas.

Menurut Dr. Raditya Wrotsangka, Sp.OG dari RS St. Carolus Jakarta, tidak ada angka yang pasti mengenai tingginya angka kehamilan remaja di Indonesia. Padahal, menurut Dr. Raditya, sangat mungkin angka kehamilan pada remaja cukup tinggi.

Pergaulan bebas menjadi kambing hitam bagi tingginya angka kehamilan remaja. Gaya hidup remaja, terutama remaja kota, sangat rentan terhadap pergaulan bebas. Secara fisiologis, alat-alat reproduksi mereka sudah berkembang optimal. Di sisi lain, usia remaja mempunyai sifat ingin tahu yang sangat besar. Termasuk pengetahuan tentang seks. Internet, televisi, majalah, dan bentuk-bentuk media lain, menjadi "guru seks" para remaja.

Menurut dr arief Rahman, M.Pd pakar pendidikan dari SMU Labschool Jakarta, seks bagi remaja dinilai ekskusif artinya selalu ada rasa ingin tahu yang besar terhadap seks. Tidak jarang ditemui, anak-anak sekolah membaca majalah-majalah dengan judul yang cukup "mengerikan" bagi usia mereka seperti "informasi 11 kiat untuk menjadi oke di atas ranjang", atau cerita tentang "pengalaman kencan gay". Padahal, bagi usia remaja, justru informasi seperti itu belum pantas mereka punyai "Ibaratnya seperti bayi yang diberi makan onde-onde. Akan terasa sakit kan?" ujar pendidik yang merupakan salah satu pimpinan Lobschool Jakarta dan Labschool Kemayoran itu.

Arief Rahman juga mengakui, anak-anak remaja selama ini hanya dibekali tentang konsep "awas nanti hamil". Sementara, upaya pencegahan kehamilan saat ini sudah banyak sekali seperti aborsi atau bahkan penggunaan kontrasepsi. Seharusnya, anak-anak ditanamkan bagaimana takut pada dosa. "Saya melihat konsep dosa dan konsep bersalah belum tertanam dengan baik." ujarnya.

Resiko pergaulan bebas

Menurut Dr. Raditya, ada dua dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks di kalangan remaja yaitu kehamilan dan penyakit menular seksual. Di Amerika. setiap tahunnya hampir satu juta remaja Perempuan menjadi hamil dan sebanyak 3,7 juta kasus baru infeksi penyakit kelamin diderita oleh remaja.

Kehamilan remaja bahkan sudah terbukti dapat memberikan risiko terhadap ibu dan janinnya. Risiko tersebut adalah disproporsi (ketiduksesuaian ukuran) janin, pendarahan, prematurilas, cacat bawaan janin, dan lain-lain. Bagi remaja laki-laki, masalah juga timbul karena ketidaksiapan mental dan tanggung jawab mereka sebagai ayah.

Selain hamil, timbulnya penyakit menular seksual pada remaja juga perlu dicermati. Penyakit tersebut ditularkan oleh perilaku seks yang tidak aman atau tidak sehat. Misalnya, remaja yang sering berganti-ganti pasangan atau berhubungan dengan pasangan yang menderita penyakit kelamin. Selain akan membawa cacat kepada bayi, Penyakit menular seks yang menyerang usia remaja juga dapat mengakibatkan penyakit kronis dan gangguan kesuburan di masa mendatang.

Materi Pendidikan seks

Pendidikan seks jangan diartikan sebagai mengajarkan bagaimana cara berhubungan seks, kata Dr. Raditya, akan tetapi pemberian materi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Jenis dan kedalaman materinya disesuaikan dengan usia, tingkat pendidikan, dan latar belakang siswa.

Materi yang diberikan dimulai dengan dijelaskan tentang anatomi dan fungsi alat reproduksi, perkembangan fisik dan mental remaja, definisi seks dan seksualitas, kesehatan seksual hubungan seks, kehamilan dan pencegahan kehamilan (alat kontrasepsi).Selain itu materinya juga mencakup tentang aborsi dan penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS.

Menurut dokter yang juga aktif di RS Pantai Indah Kapuk, Klinik Wira Medika dari Klinik Keluarga Berencana ini, pemberian materi pendidikan seks tersebut juga disertai dengan pendidikan dan penghayatan agama yang kuat. Kombinasi inilah yang akan menyebabkan seorang remaja dapat berperilaku seks yang baik.

Di Amerika, materi pendidikan seks diberikan oleh orang tua secara langsung. Dengan iklim yang sangat terbuka, mereka mendiskusikan materi pendidikan seks dengan sang anak. Cara ini dinilai lebih baik ketimbang anak mencari pengetahuan seks sendiri melalui media internet atau majalah.

Penyampaian materi pendidikan seks, sebaiknya diberikan oleh pendidik teman sebaya atau disebut dengan peer educator. Pendidik ini sudah mendapat bekal pelatihan yang cukup agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh usia remaja.

Bentuk praktis pendidikan seks, menurut Arief Rahman, meliputi pemberian nama-nama yang berbeda untuk laki-laki dan untuk perempuan. Secara kultural dan agama, ada nama untuk laki-laki dan untuk perempuan.

Pemberian baju laki-laki dan perempuan yang dibedakan juga merupakan pendidikan seks. Ketajaman seksualitas , seorang anak dimulai dari bajunya. Bahkan warna bajunya. Misalnya warna pink selalu untuk perempuan, dan warna biru untuk laki-laki. Contoh lain misalnya bahan pakaian. Sutra hanya telah dipakai untuk perempuan.

Menjelang akil balig, Yang disebut jati diri seksual makin tampak sebab secara biologis akan terjadi perubahan-perubahan fisik. Pada tahap ini jangan sampai anak laki-laki dan anak perempuan dianggap sama di dalam segala hal. Aksesoris baju pada usia akil balig juga bertambah. Pada anak perempuan, misalnya mulai mengenakan bra juga mulai mengenal pembalut.

Kapan Pendidikan seks mulai diberikan

Waktu pemberian materi pendidikan seks dimulai pada saat anak sadar mulai seks. Bahkan bila seorang bayi mulai dapat diberikan pendidikan seks, agar ia mulai dapat memberikan mana cirri-laki-laki dan mana ciri perempuan. Bisa juga diberikan saat anak mulai bertanya-tanya pada orang tuanya tentang bagaimana bayi lahir. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan pendidikan seks pada usia dini. Penggunaan kata-kata yang sangat sopan sebagai kata pengganti payudara, vagina atau penis bahkan dianjurkan.

Menurut Afief Rahman, pendidikan seks sebaiknya dimulai dari kandungan. Pembacaan ayat-ayat suci dari Kitab Suci sangat penting. Hal ini ditujukan agar anak yang dikandung mendapatkan keberkahan dari Sang pencipta seperti diketahui, identitas seks manusia sudah dimulai sejak di dalam kandungan, sehingga memang sepantasnya pendidikan seks dimulai pada fase tersebut.

Upaya integral

Pendidikan seks merupakan upaya yang menyeluruh, Keluarga, pendidikan formal dan masyarakat secara bersama-sama melakukan upaya pendidikan seks yang saling mengisi satu sama lain.

Khususnya di dalam pendidikan formal, seperti di sekolah-sekolah umum, materi pendidikan seks diberikan pada semua mata pelajaran. Jadi, kata Arief Rahman, tidak harus di dalam bentuk mata ajaran khusus. Mata pelajaran biologi menceritakan tentang alat-alat reproduksi. Pelajaran pendidikan jasmani akan menekankan perbedaan pertandingan olah raga untuk laki-laki dan perempuan. Jika laki-laki harus bermain volley ball 5 set, maka perempuan hanya 3 set. Di dalam bahasa Indonesia, diberikan cerita-cerita tentang perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Di dalam agama, ditekankan konsep dosa dan etika.

"Saya tidak terlalu setuju dengan suatu data pelajaran yang melepaskan diri dari seks ini. Semua mata pelajaran bisa bersinggungan dengan kehadiran laki-laki dan perempuan," ujar pendidik yang juga menjabat sebagai Executive Chairman dari Indonesian Notional Commision for UNESCO ini. Lagi pula, tambahnya. bila di dalam bentuk pelajaran khusus, timbul pertanyaan bagaimana memberikan penilaiannya. Apa arti angka 8 untuk pendidikan seks?

Tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan pendidikan seks yang integral dan bermutu. Banyak tantangannya yang paling berat adalah kebocoran-kebocoran sistem nilai dari luar (Barat). Hal tersebut menyebabkan anak remaja mencontoh gaya hidup Barat yang cenderung memuaskan diri. Waria dan homoseks diklaim sebagai hak asasi, menurut pendidik yang humoris ini, kalau nilai-nilai Barat seperti itu dikembangkan di negara kita, akan hancurlah remaja Indonesia.

Sumber : http://ceria.bkkbn.go.id

0 komentar:

Posting Komentar

Theme by New wp themes | Bloggerized by Dhampire