
Oleh : Marsangkap Hutabarat
JAKARTA, Kualitas tenaga pendidik dan fasilitas pembelajarannya menjadi permasalahan fundamental yang harus diperbaiki agar benar-benar terjadi link and match antara bidang pendidikan kejuruan dan kompetensi sumber daya yang dibutuhkan oleh dunia kerja di Indonesia.
Proses pembelajaran skil teknis tak cukup hanya di sekolah saja, tetapi harus diperkuat di dunia usaha langsung.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Lembaga Sertifikasi Profesi-Teknisi Otomotif ((LSP - TO) Indonesia Marsangkap Hutabarat di sela rehat acara Policy Dialogue: Skills for Employability di Jakarta, Rabu (10/3/2010). Marsangkap membenarkan, bahwa kualitas guru atau instruktur pendidikan vokasi di Indonesia perlu peningkatan yang signifikan karena umumnya lebih cenderung berbasis teoritis.
"Dunia pendidikan kejuruan kita belum berani mengambil para praktisi untuk menjadi guru, padahal untuk sekolah kejuruan atau politeknik mereka lebih profesional, karena yang dibutuhkan oleh anak didik adalah kemampuan praktisinya," ujar Marsangkap.
Kedua, lanjut dia, adalah permasalahan fasilitas pembelajaran (teaching hospitality). Menurutnya, proses pembelajaran skil teknis tak cukup hanya di sekolah saja, tetapi harus diperkuat mitra pembelajaran dengan dunia usaha langsung.
"Kita ambil contoh Eropa, yaitu di Jerman misalnya. Di sana, siswa sekolah kejuruan diwajibkan empat hari belajar di perusahaan mitra sekolah, sementara di sekolah hanya diberi waktu satu hari," tutur Marsangkap.
Terkait itu, menurut Manager English & Education British Council Andrias Soesilo, berdasarkan hasil pertemuan antara British Council bersama Kementrian Pendidikan Nasional, BAPPENAS, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ditemukan bahwa ada kebutuhan untuk proses standarisasi pendidikan kejuruan, karena terdapat gap antara kebutuhan dari industri dengan ketrampilan yang dihasilkan oleh institusi pendidikan saat ini.
"Perlu dikembangkan kurikulum yang up to date, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan rill di lapangan," ujarnya.
Sumber : http://edukasi.kompas.com
JAKARTA, Kualitas tenaga pendidik dan fasilitas pembelajarannya menjadi permasalahan fundamental yang harus diperbaiki agar benar-benar terjadi link and match antara bidang pendidikan kejuruan dan kompetensi sumber daya yang dibutuhkan oleh dunia kerja di Indonesia.
Proses pembelajaran skil teknis tak cukup hanya di sekolah saja, tetapi harus diperkuat di dunia usaha langsung.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Lembaga Sertifikasi Profesi-Teknisi Otomotif ((LSP - TO) Indonesia Marsangkap Hutabarat di sela rehat acara Policy Dialogue: Skills for Employability di Jakarta, Rabu (10/3/2010). Marsangkap membenarkan, bahwa kualitas guru atau instruktur pendidikan vokasi di Indonesia perlu peningkatan yang signifikan karena umumnya lebih cenderung berbasis teoritis.
"Dunia pendidikan kejuruan kita belum berani mengambil para praktisi untuk menjadi guru, padahal untuk sekolah kejuruan atau politeknik mereka lebih profesional, karena yang dibutuhkan oleh anak didik adalah kemampuan praktisinya," ujar Marsangkap.
Kedua, lanjut dia, adalah permasalahan fasilitas pembelajaran (teaching hospitality). Menurutnya, proses pembelajaran skil teknis tak cukup hanya di sekolah saja, tetapi harus diperkuat mitra pembelajaran dengan dunia usaha langsung.
"Kita ambil contoh Eropa, yaitu di Jerman misalnya. Di sana, siswa sekolah kejuruan diwajibkan empat hari belajar di perusahaan mitra sekolah, sementara di sekolah hanya diberi waktu satu hari," tutur Marsangkap.
Terkait itu, menurut Manager English & Education British Council Andrias Soesilo, berdasarkan hasil pertemuan antara British Council bersama Kementrian Pendidikan Nasional, BAPPENAS, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ditemukan bahwa ada kebutuhan untuk proses standarisasi pendidikan kejuruan, karena terdapat gap antara kebutuhan dari industri dengan ketrampilan yang dihasilkan oleh institusi pendidikan saat ini.
"Perlu dikembangkan kurikulum yang up to date, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan rill di lapangan," ujarnya.
Sumber : http://edukasi.kompas.com


0 komentar:
Posting Komentar