BANJARMASIN - Kesusastraan dan bahasa Banjar sebagai bahasa ibu masyarakat Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan akan dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah. Saat ini, kian banyak masyarakat setempat yang tidak lagi bisa berbahasa Banjar secara baik.
Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ariffin mengatakan, upaya untuk memasukkan bahasa Banjar ke dalam muatan lokal sudah ditempuh melalui rancangan peraturan daerah tentang pendidikan, yang kini masih berada di tangan DPRD Kalsel. Diharapkan, dalam waktu dekat peraturan daerah itu sudah bisa terealisasi.
"Mengapa kita masukan bahasa ini ke sekolah, ini untuk menjaga identitas sosial dan etnik masyarakat banjar sendiri," ujar Rudy saat memberi sambutan pada Seminar Nasional Linguistik di Banjarmasin, Senin (11/1/2010).
Menurut Rudy, keberadaan orang Banjar tersebar luas hingga ke luar Kalsel. Ia mencontohkan orang Banjar di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara, juga menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Di Kalsel sendiri terdapat sekitar 70-80 persen yang menggunakan bahasa yang dimaksud. Begitu pula di Kalimantan Timur 30-40 persen dan Kalimantan Tengah 30-40 persen.
Sumber : http://edukasi.kompas.com
Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ariffin mengatakan, upaya untuk memasukkan bahasa Banjar ke dalam muatan lokal sudah ditempuh melalui rancangan peraturan daerah tentang pendidikan, yang kini masih berada di tangan DPRD Kalsel. Diharapkan, dalam waktu dekat peraturan daerah itu sudah bisa terealisasi.
"Mengapa kita masukan bahasa ini ke sekolah, ini untuk menjaga identitas sosial dan etnik masyarakat banjar sendiri," ujar Rudy saat memberi sambutan pada Seminar Nasional Linguistik di Banjarmasin, Senin (11/1/2010).
Menurut Rudy, keberadaan orang Banjar tersebar luas hingga ke luar Kalsel. Ia mencontohkan orang Banjar di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara, juga menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Di Kalsel sendiri terdapat sekitar 70-80 persen yang menggunakan bahasa yang dimaksud. Begitu pula di Kalimantan Timur 30-40 persen dan Kalimantan Tengah 30-40 persen.
Sumber : http://edukasi.kompas.com


0 komentar:
Posting Komentar