Orangtua sering dilanda kekhawatiran ketika anaknya mulai bergaul dengan teman-teman yang dinilai tidak baik. Beberapa orangtua lainnya, mereka justru sedikit khawatir ketika anaknya sulit bergaul dengan anak seusianya, sehingga membebaskan anaknya untuk bergaul seluas-luasnya. Menurut Jerome Kagan, hal penting yang perlu ditelusur sebelum menentukan tindakan adalah memahami temperamen anak.
Bagi para orangtua umumnya, mendidik anak untuk tidak bergaul dengan anak lain yang mengajarkan perilaku buruk, tentu sudah menjadi hal wajar. Seperti sebuah pepatah, "berteman dengan maling akan menjadi maling", orangtua berusaha menjaga hubungan pertemanan anak dengan caranya sendiri. Hal yang paling sering dilakukan banyak orangtua adalah melarang anak bergaul lebih jauh, membatasi interaksi yang mungkin terjadi seperti komunikasi lewat telepon dan lainnya, hingga mengetatkan peraturan dengan mewajibkan anak "melaporkan" dengan siapa saja ia bergaul.
Namun, bagi beberapa orangtua lainnya, sikap anak yang tertutup justru menjadi hambatan mereka berkomunikasi. Jangankan dengan orangtua, dengan teman-teman sebaya pun anaknya enggan membangun hubungan akrab. Kecenderungan anak yang tertutup tentunya menyulitkan orangtua sendiri dalam mengontrol dan mendorong pembangunan emosi anak, sehingga pada akhirnya tidak mampu menghadapi pilihan yang diambil anak di kemudian hari.
Terlepas dari cara yang digunakan, baik secara persuasif maupun disiplin ketat, kita mesti sadar bahwa kecenderungan anak berinteraksi dalam pergaulan tidak serta-merta jatuh dari langit. Dalam buku Kecerdasan Emosional karya Daniel Goleman, karakter anak merupakan reaksi yang bersifat genetis. Oleh karenanya, penting bagi orangtua untuk melihat kecenderungan perilaku anak sebelum memutuskan sebuah tindakan.
Selanjutnya, laporan Jerome Kagan yang dibukukan tersebut mengutarakan bahwa temperamen sebenarnya mencirikan kehidupan emosional. Prakteknya bisa sedikit berbeda-beda, tergantung capaian emosional yang bisa diraih. Misalnya saja, Anda seorang pemalu dan suami Anda cukup terbuka. Hasil temperamen pada anak pertama bisa saja merupakan penggabungan kedua sifat tersebut, sedangkan anak kedua mewarisi keterbukaan dari ayahnya.
Dalam penelitiannya, Kagan menemukan bahwa ada empat jenis temperamen, yaitu penakut, pemberani, periang, dan pemurung. Masing-masing temperamen merupakan buah dari daya tangkap otak anak yang berbeda pula. Tanda-tanda awal seorang anak sebenarnya dapat dilihat ketika ia masih bayi, yaitu dengan melihat sikap marah, murung, ataupun riang ketika ditemukan pada sesuatu atau seseorang yang baru dikenal.
Dengan memahami emosi anak, Anda niscaya tidak terlalu dipusingkan untuk mendorong anak bergaul dengan siapa saja. Jika orangtua lain harus melarang keras anaknya, hal itu mungkin bisa dilakukan pada anak Anda, atau justru Anda harus mendorong anak lebih berani bergaul dengan anak yang lain. Semua pilihan ini didasarkan pada pemahaman Anda terhadap kecenderungan dasar anak itu sendiri.
Sumber : http://www.melindahospital.com
Bagi para orangtua umumnya, mendidik anak untuk tidak bergaul dengan anak lain yang mengajarkan perilaku buruk, tentu sudah menjadi hal wajar. Seperti sebuah pepatah, "berteman dengan maling akan menjadi maling", orangtua berusaha menjaga hubungan pertemanan anak dengan caranya sendiri. Hal yang paling sering dilakukan banyak orangtua adalah melarang anak bergaul lebih jauh, membatasi interaksi yang mungkin terjadi seperti komunikasi lewat telepon dan lainnya, hingga mengetatkan peraturan dengan mewajibkan anak "melaporkan" dengan siapa saja ia bergaul.
Namun, bagi beberapa orangtua lainnya, sikap anak yang tertutup justru menjadi hambatan mereka berkomunikasi. Jangankan dengan orangtua, dengan teman-teman sebaya pun anaknya enggan membangun hubungan akrab. Kecenderungan anak yang tertutup tentunya menyulitkan orangtua sendiri dalam mengontrol dan mendorong pembangunan emosi anak, sehingga pada akhirnya tidak mampu menghadapi pilihan yang diambil anak di kemudian hari.
Terlepas dari cara yang digunakan, baik secara persuasif maupun disiplin ketat, kita mesti sadar bahwa kecenderungan anak berinteraksi dalam pergaulan tidak serta-merta jatuh dari langit. Dalam buku Kecerdasan Emosional karya Daniel Goleman, karakter anak merupakan reaksi yang bersifat genetis. Oleh karenanya, penting bagi orangtua untuk melihat kecenderungan perilaku anak sebelum memutuskan sebuah tindakan.
Selanjutnya, laporan Jerome Kagan yang dibukukan tersebut mengutarakan bahwa temperamen sebenarnya mencirikan kehidupan emosional. Prakteknya bisa sedikit berbeda-beda, tergantung capaian emosional yang bisa diraih. Misalnya saja, Anda seorang pemalu dan suami Anda cukup terbuka. Hasil temperamen pada anak pertama bisa saja merupakan penggabungan kedua sifat tersebut, sedangkan anak kedua mewarisi keterbukaan dari ayahnya.
Dalam penelitiannya, Kagan menemukan bahwa ada empat jenis temperamen, yaitu penakut, pemberani, periang, dan pemurung. Masing-masing temperamen merupakan buah dari daya tangkap otak anak yang berbeda pula. Tanda-tanda awal seorang anak sebenarnya dapat dilihat ketika ia masih bayi, yaitu dengan melihat sikap marah, murung, ataupun riang ketika ditemukan pada sesuatu atau seseorang yang baru dikenal.
Dengan memahami emosi anak, Anda niscaya tidak terlalu dipusingkan untuk mendorong anak bergaul dengan siapa saja. Jika orangtua lain harus melarang keras anaknya, hal itu mungkin bisa dilakukan pada anak Anda, atau justru Anda harus mendorong anak lebih berani bergaul dengan anak yang lain. Semua pilihan ini didasarkan pada pemahaman Anda terhadap kecenderungan dasar anak itu sendiri.
Sumber : http://www.melindahospital.com


0 komentar:
Posting Komentar