Rumah Kosong dan Tanggung Jawab Anak

Author wong cilik Category
Home Alone. Anda dan anak-anak tentu sudah tidak asing lagi dengan film tersebut, atau bahkan sudah bosan karena terlalu sering diputar ulang di beberapa stasiun televisi. Jika film itu mengarahkan untuk tidak meninggalkan anak-anak seorang diri di rumah, tetapi Anda sudah merasa bahwa anak cukup besar untuk diberi tanggung jawab tersebut, lalu seberapa cukup anak mendapat tanggung jawab ini ?

Masalah meninggalkan anak seorang diri di rumah ketika Anda terpaksa pulang terlambat dari kantor, tentu lebih menghemat biaya ketimbang menitipkannya pada tempat penitipan anak. Namun, orangtua yang "membekali" anaknya dengan kunci rumah ternyata memberi peluang anak mencoba berbagai hal tanpa bimbingan. Dari mulai menggunakan telepon tidak wajar, menonton film khusus orang dewasa, membuka situs porno, merokok, menggunakan obat-obatan, hingga mengajak teman lawan jenis.

Fase Pertama

Para ahli menyarankan agar anak-anak memasuki usia sekolah menengah dikenalkan pada tanggung jawab yang lebih besar. Membiarkannya seorang diri di rumah dapat meningkatkan tanggung jawab yang ingin dicapai, meski harus melewati proses panjang yang tidak mudah. Misalnya, ketika Anda harus berada di kantor lebih lama, anak diwajibkan menelepon setibanya di rumah. Lalu setiap setengah jam atau 15 menit sekali, anak melaporkan perkembangan di rumah.

Selanjutnya, anak juga mesti diberi pengertian tentang keamanan rumah. Dari mulai mengecek kunci pintu, tidak membukakan pintu pada orang yang tidak dikenal, tidak memberitahu rumah kosong pada penelepon yang tidak dikenal, hingga memastikan untuk mematikan kompor setelah menggunakan. Namun, penting Anda ingat bahwa anak sendiri butuh keleluasaan. Jadi pastikan Anda memberikan peraturan yang dapat dimengerti dan bisa dijalankan, agar anak dapat beraktivitas sesuai kebiasaannya tanpa melanggar peraturan khusus ini.

Fase Kedua

Dalam beberapa anak, peningkatan tanggung jawab dapat mendorong keinginannya untuk ditinggal lebih lama. Anak yang merasa nyaman dengan rumah yang kosong, menjadi lebih sering bosan ketika seluruh anggota keluarga sudah kembali. Meski dorongan ini adalah dorongan kemandirian, tetapi penting untuk diingat bahwa tanggung jawab yang Anda berikan tidak selamanya. Jadi, jangan sampai Anda malah keasyikan menyelesaikan pekerjaan, dan tetap meminimalkan kemungkinan pulang terlambat.

Selain itu, Anda pun dapat menguji kejujuran anak dengan pulang lebih cepat dari perkataan. Misalnya, tanpa harus berbohong Anda mengatakan bahwa pekerjaan hampir selesai, dan tiba di rumah 1,5 jam lagi. Ketika pekerjaan Anda selesai lima menit setelah menutup telepon, dan tiba di rumah dalam waktu satu jam, Anda dapat melihat kebenaran atau kebohongan dari perkataan anak.

Fase Ketiga

Meminta bantuan tetangga untuk turut mengawasi anak ketika Anda pulang terlambat, menjadi hal lain yang bisa dilakukan. Selain dapat memberikan bantuan ketika anak membutuhkan orang lain, tetangga yang baik dapat memotivasi anak untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar peraturan.

Jika anak sudah dapat melewati tahapan ini, berarti tanggung jawab yang Anda berikan sudah dapat dijalani dengan baik. Maka, seiring dengan waktu, anak pun akan lebih mendalami alasan-alasan peraturan yang Anda berikan.

Sumber : http://www.melindahospital.com

0 komentar:

Posting Komentar

Theme by New wp themes | Bloggerized by Dhampire