KARYA seni memang identik dengan sesuatu yang indah. Entah produk jadinya itu berbentuk sastra, lukisan, tari-tarian. semuanya tetap mengandung nilai estetika yang tinggi.
Nah, untuk menghasilkan karya seni, para "produsennya" membutuhkan kepekaan agar karya yang dihasilkan bisa menarik dan memiliki nilai estetika yang bisa membuat orang lain tertarik untuk menikmatinya. Tentu saja tidak mudah untuk melatih anak-anak agar bisa menghasilkan sebuah karya seni. Lalu, bagaimana cara mengajarkan mereka tentang seni supaya mereka mampu menghasilkan karyanya? Walaupun terbilang sulit, para orangtua bisa memulainya dengan hal-hal yang mudah.
Ambil contoh mengajarkan karya seni ringan, seperti membuat kerajinan khas anak, melukis dengan gambar-gambar yang sesuai dengan usia mereka. Itu semua diyakini dapat melatih anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti lembut dan mudah tersentuh ketika menyaksikan penderitaan orang lain. Jika sedari kecil sudah merasakan hal seperti itu, semakin dia besar akan semakin mengakar perasaan humanis mereka.
Kebebasan untuk menuangkan ide-ide kreatif lewat karya seni yang dihasilkan, diyakini bisa membuat anak semakin terasah kemampuannya untuk menciptakan karya seni yang baru. Bahkan, si buah hati bisa merasakan bahwa eksistensinya diakui dan ada yang memperhatikan apa yang dihasilkan mereka. Jadi sebagai orangtua, bila si kecil sedang asyik bermain dengan lukisan atau kerajinan tanah liat, lebih baik sesekali memuji karya yang dihasilkan.
Tak peduli, apakah karya itu sebenarnya bagus atau sebaliknya. Sebab, pujian dapat semakin mendorong mereka untuk menghasilkan karya-karya lainnya yang tentunya berkualitas lebih baik lagi.
"Yang namanya anak-anak, lebih suka dengan sesuatu yang baru. Jadi, kesukaannya terhadap yang baru itu dapat dimanfaatkan dengan memberikan fasilitas kepada anak. Kita bisa memberikan anak-anak dengan buku gambar, kanvas ataupun pensil warna. Dengan perlengkapan itu, pastinya anak ingin menghasilkan sesuatu," kata pengajar kesenian Budiman Jatmiko.
Dengan melatih anak untuk biasa membuat karya seni, Budiman mengaku bisa membiasakan anak-anak untuk berani mengekspresikan diri melalui karya yang dibuat tanpa harus banyak bicara.
"Anak-anak akan semakin kreatif ketika membuat apa yang mereka sukai. Orangtua seharusnya lebih peka, jika anak mulai mencoret dinding biasanya mereka ingin menggambar. Jadi, orangtua atau orang di sekitarnya bisa membelikan kertas gambar dan pensil warna," terang Budiman.
Perkembangan dunia anak, menurut Budiman, anak-anak lebih dahulu pandai melukis daripada belajar membaca atau menulis. Buah hati menyatakan emosi mereka dalam bentuk lukisan.
"Anak-anak lebih cepat tertarik pada lukisan daripada tulisan. Ini dapat dilihat pada kegemaran mereka kepada kartun ataupun komik. Malah, sebuah pembelajaran menjadi lebih mudah dan berkesan bila materi ajarnya dibawakan dengan media lukisan atau gambar. Hal itu lebih mudah menarik perhatian anak dan mudah mereka ingat," katanya.
Namun, tambah Budiman, sayangnya tidak semua orangtua mendukung pendidikan seni bagi buah hati mereka. Pasalnya, seni dianggap tidak mempunyai prospek yang cerah untuk menopang kebutuhan hidup mereka di masa depan. Bahkan, orangtua lebih tertarik untuk memfokuskan anak-anak mereka pada kursus bahasa asing dibandingkan memasukkan anaknya ke kursus melukis atau sanggar tari yang ada sekitar rumahnya.
Ditambahkan Budiman, penelitian telah membuktikan bahwa proses melukis, khususnya pada anak-anak melibatkan penggunaan otak kanan. Otak bagian ini berfungsi untuk imajinasi, emosi, kepekaan terhadap warna, kreativitas, dan kemampuan bermain musik.
"Selain anak, yang perlu disadarkan adalah orangtua. Mendidik anak untuk belajar membuat karya seni sangat baik dan itu perlu dukungan mereka. Jadi, bukan semata-mata anak diarahkan untuk menjadi pekerja seni," tambah guru berkacamata ini.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com


0 komentar:
Posting Komentar