BANDUNG, Rektor Universitas Katolik Parahyangan Cecilia Lauw ternyata berubah pikiran, tidak ingin menjatuhkan sanksi yang berat kepada Banyu Perwita terkait kasus plagiat yang melibatkan dosen Unpar itu. Menurut dia, Banyu cukup diberi sanksi berat, yaitu dinonaktifkan sementara.
"Ya, dinonaktifkan saja dulu. Tapi belum tahu hingga berapa lama," ujarnya saat wawancara kepada Kompas, Jumat (12/2/2010). Menurut dia, setelah mencermati perkembangan berita dan tanggapan dari mahasiswa, dosen, dan alumni, Banyu Perwita perlu diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
Ia mengaku banyak mendapat permintaan baik dari mahasiswa dan alumni agar Banyu diberi sanksi nonaktif sementara saja. Karena, keahliannya masih diperlukan oleh Unpar, khususnya mahasiswa. Sebelumnya, banyak diberitakan pula bahwa sebagian mahasiswa keberatan dengan ide pemecatan Banyu sebagai dosen.
"Banyu memang sudah menyatakan mengundurkan diri. Tetapi, tidak bisa begitu saja. Yayasan kan punya keputusan lain," ujarnya kemudian. Cecelia membenarkan bahwa dirinya sebelumnya pernah mengaku tidak akan segan memberhentikan dengan tidak hormat kepada Banyu Perwita. Namun, ini lebih bersifat reaktif karena banyaknya tekanan dari masyarakat.
Padahal, menurut dia, kasus Banyu perlu diselesaikan dengan kepala dingin. Dia mengaku, sangat kecewa dengan tindakan Banyu. Tetapi sebagai rektor yang mengayomi, perlu bijak pula untuk mengikuti pertimbangan-pertimbangan lainnya.
"Banyu adalah mutiara yang berharga untuk Unpar. Biaya investasi yang dikeluarkan untuk menyekolahkan Banyu hingga menjadi sekarang kan tidak sedikit, tuturnya. Dengan demikian, keputusan nantinya tinggal bergantung kepada Yayasan Unpar, apakah akan menerima pengunduran diri Banyu atau tidak.
Sumber : http://edukasi.kompas.com
"Ya, dinonaktifkan saja dulu. Tapi belum tahu hingga berapa lama," ujarnya saat wawancara kepada Kompas, Jumat (12/2/2010). Menurut dia, setelah mencermati perkembangan berita dan tanggapan dari mahasiswa, dosen, dan alumni, Banyu Perwita perlu diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
Ia mengaku banyak mendapat permintaan baik dari mahasiswa dan alumni agar Banyu diberi sanksi nonaktif sementara saja. Karena, keahliannya masih diperlukan oleh Unpar, khususnya mahasiswa. Sebelumnya, banyak diberitakan pula bahwa sebagian mahasiswa keberatan dengan ide pemecatan Banyu sebagai dosen.
"Banyu memang sudah menyatakan mengundurkan diri. Tetapi, tidak bisa begitu saja. Yayasan kan punya keputusan lain," ujarnya kemudian. Cecelia membenarkan bahwa dirinya sebelumnya pernah mengaku tidak akan segan memberhentikan dengan tidak hormat kepada Banyu Perwita. Namun, ini lebih bersifat reaktif karena banyaknya tekanan dari masyarakat.
Padahal, menurut dia, kasus Banyu perlu diselesaikan dengan kepala dingin. Dia mengaku, sangat kecewa dengan tindakan Banyu. Tetapi sebagai rektor yang mengayomi, perlu bijak pula untuk mengikuti pertimbangan-pertimbangan lainnya.
"Banyu adalah mutiara yang berharga untuk Unpar. Biaya investasi yang dikeluarkan untuk menyekolahkan Banyu hingga menjadi sekarang kan tidak sedikit, tuturnya. Dengan demikian, keputusan nantinya tinggal bergantung kepada Yayasan Unpar, apakah akan menerima pengunduran diri Banyu atau tidak.
Sumber : http://edukasi.kompas.com


0 komentar:
Posting Komentar