PENDIDIKAN prasekolah tidak lagi menawarkan pembelajaran bagi anak-anak usia dini dari umur satu tahun. Bahkan, bayi usia enam bulan pun kini sudah diajak bersekolah. Pendidikan bagi anak usia dini, telah melewati perkembangan yang cukup signifikan.
Jika melihat ke masa tahun 1990-an dan sebelumnya, hanya anak-anak berusia empat sampai enam tahun yang dapat merasakan manisnya kehidupan sekolah. Padahal, anak-anak dengan usia mulai dari satu hingga lima tahun, tengah melewati masa golden age atau usia emas.
Yakni masa tumbuh kembang anak. Anak-anak dengan usia tersebut mudah sekali menyerap sesuatu dari lingkungan tempatnya berada. Mereka akan melakukan tindakan imitasi atau meniru dari apa yang dilihat atau didengar. Golden age pun merupakan masa yang tepat untuk secara sederhana membentuk karakter anak-anak.
Lebih dari itu, tidak sedikit kalangan praktisi pendidikan yang menilai pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan bekal untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak. Di samping itu, pendidikan tersebut juga berfungsi melatih perkembangan motorik anak. Betapa krusialnya PAUD sehingga mendorong lembaga pendidikan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak tersebut.
Kini di kota besar telah banyak bermunculan sekolah bagi si kecil. Yang pasti, bukan hanya anak-anak usia TK saja yang dapat bersekolah. Prasekolah menawarkan pendidikan bagi anak-anak dimulai dari usia satu hingga enam tahun. Mereka akan dimasukkan dalam sebuah kelas, sesuai dengan usia.
Anak-anak usia 18-30 bulan menduduki level Toddler, sedangkan usia 2-3 tahun masuk ke tingkat Nursery, usia 4-5 masuk ke tingkat Kindergarten 1 dan Kindergarten 2 untuk anak usia 5-6 tahun. Tidak hanya itu, bayi berusia 6-17 bulan pun dapat ikut serta bermain bersama teman di kelas Infant.
Dengan demikian, orangtua pun mempunyai ragam pilihan untuk menyekolahkan anaknya. Tentunya pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak tersebut memiliki porsi berbeda, sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Kelas Infant misalnya, hanya memiliki waktu belajar yang sedikit dan pertemuan pun tidak dilakukan setiap hari.
Seperti kelas Infant yang diadakan oleh pendidikan prasekolah I Smile. Kelas ini hanya dibuka setiap seminggu dua kali dengan waktu belajar satu setengah jam. Dalam satu kelas terdapat 15 siswa yang masih berusia bulanan dan dibimbing oleh dua orang guru.
Karena masih sangat kecil, pihak sekolah menganjurkan agar setiap anak didampingi oleh orangtua atau pengasuh agar kegiatan belajar dapat berjalan secara optimal. Lantas apa saja yang bayi-bayi ini pelajari? Pihak sekolah cukup pintar meramu kegiatan belajar yang sekilas hanya bermain, namun sarat dengan sisi edukasi.
Sebelum kelas dimulai, ada beberapa hal yang harus dilewati para bayi ini. Mereka harus mencuci tangan lebih dulu di wastafel yang tersedia di kelas. Kemudian guru akan mengecek temperatur mereka. Tujuannya untuk memastikan mereka dalam kondisi yang sehat. Setelah itu, barulah kegiatan belajar mengajar dimulai.
Biasanya para guru akan mengawali dengan memberikan mereka mainan yang bisa dibunyikan. "Tujuannya untuk merangsang indera pendegarannya," ujar Dolly Francy, guru Infant dan Toddler program I Smile.
Pembelajaran pun tak luput menyentuh aspek motorik, dengan mengajar mereka berolahraga. Bayi-bayi tersebut diminta merangkak atau berjalan dengan dibimbing, melewati sebuah bilah kayu dengan ketinggian hanya 5cm. Mereka pun juga diperkenalkan dengan alat-alat musik, mengenal alam, dan bahasa sederhana. Agar mereka tidak bosan, guru mengajak menyanyi disertai dengan gerakan.
Mereka pun diminta berdiri dan ikut bergerak, hal ini bertujuan untuk memberi rangsangan pada otak. Bernyanyi pun mengajarkan mereka untuk mengenal bahasa. Sementara bagi siswa-siswa Toddler, materi yang disuguhkan pada prinsipnya mempunyai tujuan yang tidak jauh berbeda dengan kelas Infant. Yakni menstimulasi kemampuan bahasa, motorik, dan mengajarkan mereka untuk hidup bersosialisasi.
Kegiatannya pun diarahkan kepada kesenian, bahasa, matematika sederhana, ataupun mengenal alam. Sedangkan sosialisasi misalnya mengajarkan mereka untuk berbagi dengan teman atau belajar mengantre jika ingin mencuci tangan atau bermain ayunan.
Di Pre School Planet Kidz yang berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa 3 Menteng, Jakarta Pusat, kelas Toddler diadakan seminggu dua kali dengan waktu belajar selama dua jam. Sedangkan kelas Play Group bagi siswa usia tiga tahun, diadakan lima kali dalam seminggu.
Menurut kepala sekolah Planet Kidz Ama Noersatryo, program pendidikan usia tiga tahun ini disusun berdasarkan tema bulanan selama satu tahun ajaran. Untuk menyiapkan anak-anak dalam kondisi siap belajar, sekolah ini mempunyai cara yang menarik. Yakni dengan membebaskan anak bermain di luar selama setengah jam.
"Lalu anak-anak masuk kelas dan berdoa, dilanjutkan dengan bernyanyi dan makan bersama," ujar Ama. Setelah itu dimulai kegiatan kelompok dan kegiatan membuat prakarya. Setengah jam sebelum pulang, mereka kembali diperbolehkan bermain bebas di dalam kelas. Lain lagi dengan Menteng Preschool.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, ini menyenderkan sistem pembelajarannya pada kurikulum Montessori. "Kurikulum Montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan agar mereka menjadi pelajar aktif," ujar Academic Director Menteng Preschool Sony Vasandani.
Sekolah ini memang termasuk dalam grup Modern Montessori International London. Program yang ditawarkan yakni Playgroup, Nursery, dan Kindergarten dengan dua pilihan.
Full Day Program yang berlangsung 2-5 kali seminggu dengan waktu belajar dari pukul 08.00-05.00. Dan Half Day Program dengan jumlah pertemuan sama, dengan waktu belajar pukul 08.00-12.00. Jadi, sudahkah Anda siap menentukan sekolah buat si kecil?
Sumber : http://lifestyle.okezone.com
Jika melihat ke masa tahun 1990-an dan sebelumnya, hanya anak-anak berusia empat sampai enam tahun yang dapat merasakan manisnya kehidupan sekolah. Padahal, anak-anak dengan usia mulai dari satu hingga lima tahun, tengah melewati masa golden age atau usia emas.
Yakni masa tumbuh kembang anak. Anak-anak dengan usia tersebut mudah sekali menyerap sesuatu dari lingkungan tempatnya berada. Mereka akan melakukan tindakan imitasi atau meniru dari apa yang dilihat atau didengar. Golden age pun merupakan masa yang tepat untuk secara sederhana membentuk karakter anak-anak.
Lebih dari itu, tidak sedikit kalangan praktisi pendidikan yang menilai pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan bekal untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak. Di samping itu, pendidikan tersebut juga berfungsi melatih perkembangan motorik anak. Betapa krusialnya PAUD sehingga mendorong lembaga pendidikan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak tersebut.
Kini di kota besar telah banyak bermunculan sekolah bagi si kecil. Yang pasti, bukan hanya anak-anak usia TK saja yang dapat bersekolah. Prasekolah menawarkan pendidikan bagi anak-anak dimulai dari usia satu hingga enam tahun. Mereka akan dimasukkan dalam sebuah kelas, sesuai dengan usia.
Anak-anak usia 18-30 bulan menduduki level Toddler, sedangkan usia 2-3 tahun masuk ke tingkat Nursery, usia 4-5 masuk ke tingkat Kindergarten 1 dan Kindergarten 2 untuk anak usia 5-6 tahun. Tidak hanya itu, bayi berusia 6-17 bulan pun dapat ikut serta bermain bersama teman di kelas Infant.
Dengan demikian, orangtua pun mempunyai ragam pilihan untuk menyekolahkan anaknya. Tentunya pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak tersebut memiliki porsi berbeda, sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Kelas Infant misalnya, hanya memiliki waktu belajar yang sedikit dan pertemuan pun tidak dilakukan setiap hari.
Seperti kelas Infant yang diadakan oleh pendidikan prasekolah I Smile. Kelas ini hanya dibuka setiap seminggu dua kali dengan waktu belajar satu setengah jam. Dalam satu kelas terdapat 15 siswa yang masih berusia bulanan dan dibimbing oleh dua orang guru.
Karena masih sangat kecil, pihak sekolah menganjurkan agar setiap anak didampingi oleh orangtua atau pengasuh agar kegiatan belajar dapat berjalan secara optimal. Lantas apa saja yang bayi-bayi ini pelajari? Pihak sekolah cukup pintar meramu kegiatan belajar yang sekilas hanya bermain, namun sarat dengan sisi edukasi.
Sebelum kelas dimulai, ada beberapa hal yang harus dilewati para bayi ini. Mereka harus mencuci tangan lebih dulu di wastafel yang tersedia di kelas. Kemudian guru akan mengecek temperatur mereka. Tujuannya untuk memastikan mereka dalam kondisi yang sehat. Setelah itu, barulah kegiatan belajar mengajar dimulai.
Biasanya para guru akan mengawali dengan memberikan mereka mainan yang bisa dibunyikan. "Tujuannya untuk merangsang indera pendegarannya," ujar Dolly Francy, guru Infant dan Toddler program I Smile.
Pembelajaran pun tak luput menyentuh aspek motorik, dengan mengajar mereka berolahraga. Bayi-bayi tersebut diminta merangkak atau berjalan dengan dibimbing, melewati sebuah bilah kayu dengan ketinggian hanya 5cm. Mereka pun juga diperkenalkan dengan alat-alat musik, mengenal alam, dan bahasa sederhana. Agar mereka tidak bosan, guru mengajak menyanyi disertai dengan gerakan.
Mereka pun diminta berdiri dan ikut bergerak, hal ini bertujuan untuk memberi rangsangan pada otak. Bernyanyi pun mengajarkan mereka untuk mengenal bahasa. Sementara bagi siswa-siswa Toddler, materi yang disuguhkan pada prinsipnya mempunyai tujuan yang tidak jauh berbeda dengan kelas Infant. Yakni menstimulasi kemampuan bahasa, motorik, dan mengajarkan mereka untuk hidup bersosialisasi.
Kegiatannya pun diarahkan kepada kesenian, bahasa, matematika sederhana, ataupun mengenal alam. Sedangkan sosialisasi misalnya mengajarkan mereka untuk berbagi dengan teman atau belajar mengantre jika ingin mencuci tangan atau bermain ayunan.
Di Pre School Planet Kidz yang berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa 3 Menteng, Jakarta Pusat, kelas Toddler diadakan seminggu dua kali dengan waktu belajar selama dua jam. Sedangkan kelas Play Group bagi siswa usia tiga tahun, diadakan lima kali dalam seminggu.
Menurut kepala sekolah Planet Kidz Ama Noersatryo, program pendidikan usia tiga tahun ini disusun berdasarkan tema bulanan selama satu tahun ajaran. Untuk menyiapkan anak-anak dalam kondisi siap belajar, sekolah ini mempunyai cara yang menarik. Yakni dengan membebaskan anak bermain di luar selama setengah jam.
"Lalu anak-anak masuk kelas dan berdoa, dilanjutkan dengan bernyanyi dan makan bersama," ujar Ama. Setelah itu dimulai kegiatan kelompok dan kegiatan membuat prakarya. Setengah jam sebelum pulang, mereka kembali diperbolehkan bermain bebas di dalam kelas. Lain lagi dengan Menteng Preschool.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, ini menyenderkan sistem pembelajarannya pada kurikulum Montessori. "Kurikulum Montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan agar mereka menjadi pelajar aktif," ujar Academic Director Menteng Preschool Sony Vasandani.
Sekolah ini memang termasuk dalam grup Modern Montessori International London. Program yang ditawarkan yakni Playgroup, Nursery, dan Kindergarten dengan dua pilihan.
Full Day Program yang berlangsung 2-5 kali seminggu dengan waktu belajar dari pukul 08.00-05.00. Dan Half Day Program dengan jumlah pertemuan sama, dengan waktu belajar pukul 08.00-12.00. Jadi, sudahkah Anda siap menentukan sekolah buat si kecil?
Sumber : http://lifestyle.okezone.com


0 komentar:
Posting Komentar