JIKA masyarakat sudah bersatu, apa pun mudah diwujudkan. Minimnya akses masyarakat Desa Sarimukti, Garut, Jawa Barat, terhadap sekolah mendorong mereka mewujudkan sekolah alternatif.
Sekolah ini dinamai Sururon. Di lokasi ini kini tidak hanya didirikan madrasah tsanawiyah (MTs), tapi juga sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian, bahkan pendidikan untuk anak usia dini.
Sekolah yang terletak di Desa Sarimukti, Pasirwangi, Kabupaten Garut, ini didirikan sejak 2003 atas prakarsa masyarakat petani setempat yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP). Kini keberhasilan pembukaan sekolah alternatif yang menggabungkan pendidikan dengan keterampilan bidang pertanian itu juga diadopsi di wilayah lain, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat.
Menurut salah satu Dewan Pendiri Sekolah Aletrnatif Sururon Ridwan Saefudin, munculnya kesadaran petani akan pendidikan bagi anak-anaknya mulai terbentuk sejak didirikannya SPP pada 2000.
"Setelah tergabung dalam SPP, kemudian para petani mulai berupaya mendirikan lembaga pendidikan. Sehingga perjuangan SPP tidak hanya berjuang di tataran sumber ekonomi saja, melainkan juga akses pendidikan bagi anak-anak mereka," ujar Ridwan yang akrab disapa Inceu ini seusai acara peluncuran Sekolah Tanpa Batas di Utan Kayu, Jakarta, Kamis (7/5/2009) silam.
Menurut Ridwan, mayoritas profesi masyarakat Desa Sarimukti adalah buruh tani berpenghasilan Rp6.000-7.000 per hari. Jika anak-anak mereka harus bersekolah, mereka akan sangat kesulitan. Lokasi sekolah formal yang cukup jauh, mencapai puluhan kilometer, membutuhkan pula biaya transportasi yang nilainya melebihi kemampuan keuangan masyarakat setempat.
Alhasil, jika sudah lulus sekolah dasar kebanyakan anak-anak petani itu akan terkondisikan untuk membantu orang tua bekerja di sawah atau lainnya. Hanya sedikit dari mereka yang bisa mengenyam bangku pendidikan lebih tinggi.
"Akhirnya kami sepakat bagaimana agar kami bisa melayani pendidikan bagi anak-anak petani. Pada 24 Juli 2003 itulah mulai didirikan MTs Sururon. Agar anak-anak petani bisa mengenyam bangku SMP," paparnya. Paling sulit adalah memberikan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
Namun dengan berbagai dialog dan diskusi dalam forum SPP, akhirnya masyarakat setempat menyadari pentingnya pendidikan. Tentu saat itu yang dimiliki masyarakat petani hanya modal niat dan tekad belaka. "Saat itu kami belum memikirkan mau mendirikan sekolah di mana ruangnya, kalau soal siswa enggak perlu ditanya, karena semua anak pasti mau belajar. Tapi tempatnya di mana?" kisahnya.
Akhirnya masyarakat mendapatkan bantuan dari salah satu pondok pesantren di Desa Sari Mukti, Pondok Pesantren Sururon, untuk menggunakan salah satu ruangan di sana. Akhirnya dibukalah kelas MTs Sururon dengan sarana dan sumber daya seadanya. Selama satu tahun pertama proses belajar mengajar terhadap 150 siswa di MTs ini dilakukan dengan cara lesehan di lantai dalam dua ruangan.
"Kami juga bingung menghadapi jumlah anak yang begitu bersemangat mengikuti pendidikan. Saya melihat ada banyak harapan dari mereka, sehingga mereka tidak lagi memedulikan kondisi," paparnya. Untuk kurikulum pendidikan, mereka mengadopsi pola yang diberlakukan oleh Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional.
Selain itu, kebutuhan lingkungan masyarakat yakni di bidang pertanian juga diintegrasikan. Banyak materi yang lebih aplikatif dan mudah dipahami oleh anak didik disisipkan dalam pengajaran. Artinya, meski mengacu pada kurikulum, namun pendidikan di sini tidak mengikuti pakem yang ditentukan birokrasi pendidikan.
"Misalnya kami berbicara tentang air, mengapa air di sini jadi berkurang. Kemudian kenapa marak masyarakat desa yang pergi ke kota, kami bicarakan itu. Secara tidak langsung, misalnya, mereka jadi sadar mengapa tingkat perkawinan dini di desa mereka sangat tinggi," ungkapnya.
Para peserta didik itu memang tidak dipungut biaya alias gratis. Biaya operasional sekolah didukung oleh organisasi SPP, melalui gotong-royong anggota yang juga orang tua dari para siswa. Semangat kebersamaan masyarakat petani di Desa Sarimukti kemudian berlanjut saat pembangunan gedung sekolah sendiri. Melalui pinjaman lahan milik Pondok Pesantren Sururon akhirnya dibangunlah gedung sendiri dengan desain sendiri.
"Ini semua masyarakat yang memusyawarahkan, apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan, mereka juga yang secara bersama-sama mengelolanya. Mulai kayu, batu, semua dari partisipasi masyarakat," katanya.
Uniknya, karena dibangun sendiri oleh warga, masyarakat bebas membuat rancangan bangunannya. Bahan-bahannya kayu dan bambu, dibangun di atas kolam ikan. Letak geografis kampung yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dan suhu udara yang dingin, membuat Desa Sarimukti memang cocok menjadi lokasi peternakan ikan nila, emas, dan lainnya.
Untungnya anak-anak sangat menikmati belajar di ruangan baru tersebut. "Kolam di bawah ruangan kelas dipakai sebagai laboratorium bagi anak-anak belajar sekaligus sebagai sumber penghasilan. Bahkan untuk pemenuhan gizi anak," lanjut Ridwan.
Saat ini MTS Sururon telah memiliki empat ruangan, tiga di antaranya ruang kelas dan satu lainnya dijadikan sebagai kantor sekretariat, ruang praktik komputer, ruang guru, dan perpustakaan. Pada awalnya hanya 3 orang guru yang intens terlibat, tapi kini sudah ada 23 tenaga pengajar. Di samping untuk MTs, mereka mengajar SMK pertanian yang baru berjalan dua tahun, dan untuk pendidikan anak usia dini.
"Kebanyakan tenaga pengajar di sini orang lokal. Mereka ada yang lulusan SD, SMP, atau hanya SMA. Menurut pemahaman kami, dalam pendidikan ini yang diutamakan bukan teori, melainkan aplikasinya. Dalam bidang pertanian tentu saja pakarnya adalah para petani sendiri atau warga setempat," kata Ridwan memberi alasan.
Hingga saat ini sekolah alternatif Sururon telah memiliki sekitar 200 murid. Dari jumlah itu 45 siswa belajar di SMK.
Sumber : http://news.okezone.com
Sekolah ini dinamai Sururon. Di lokasi ini kini tidak hanya didirikan madrasah tsanawiyah (MTs), tapi juga sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian, bahkan pendidikan untuk anak usia dini.
Sekolah yang terletak di Desa Sarimukti, Pasirwangi, Kabupaten Garut, ini didirikan sejak 2003 atas prakarsa masyarakat petani setempat yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP). Kini keberhasilan pembukaan sekolah alternatif yang menggabungkan pendidikan dengan keterampilan bidang pertanian itu juga diadopsi di wilayah lain, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat.
Menurut salah satu Dewan Pendiri Sekolah Aletrnatif Sururon Ridwan Saefudin, munculnya kesadaran petani akan pendidikan bagi anak-anaknya mulai terbentuk sejak didirikannya SPP pada 2000.
"Setelah tergabung dalam SPP, kemudian para petani mulai berupaya mendirikan lembaga pendidikan. Sehingga perjuangan SPP tidak hanya berjuang di tataran sumber ekonomi saja, melainkan juga akses pendidikan bagi anak-anak mereka," ujar Ridwan yang akrab disapa Inceu ini seusai acara peluncuran Sekolah Tanpa Batas di Utan Kayu, Jakarta, Kamis (7/5/2009) silam.
Menurut Ridwan, mayoritas profesi masyarakat Desa Sarimukti adalah buruh tani berpenghasilan Rp6.000-7.000 per hari. Jika anak-anak mereka harus bersekolah, mereka akan sangat kesulitan. Lokasi sekolah formal yang cukup jauh, mencapai puluhan kilometer, membutuhkan pula biaya transportasi yang nilainya melebihi kemampuan keuangan masyarakat setempat.
Alhasil, jika sudah lulus sekolah dasar kebanyakan anak-anak petani itu akan terkondisikan untuk membantu orang tua bekerja di sawah atau lainnya. Hanya sedikit dari mereka yang bisa mengenyam bangku pendidikan lebih tinggi.
"Akhirnya kami sepakat bagaimana agar kami bisa melayani pendidikan bagi anak-anak petani. Pada 24 Juli 2003 itulah mulai didirikan MTs Sururon. Agar anak-anak petani bisa mengenyam bangku SMP," paparnya. Paling sulit adalah memberikan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
Namun dengan berbagai dialog dan diskusi dalam forum SPP, akhirnya masyarakat setempat menyadari pentingnya pendidikan. Tentu saat itu yang dimiliki masyarakat petani hanya modal niat dan tekad belaka. "Saat itu kami belum memikirkan mau mendirikan sekolah di mana ruangnya, kalau soal siswa enggak perlu ditanya, karena semua anak pasti mau belajar. Tapi tempatnya di mana?" kisahnya.
Akhirnya masyarakat mendapatkan bantuan dari salah satu pondok pesantren di Desa Sari Mukti, Pondok Pesantren Sururon, untuk menggunakan salah satu ruangan di sana. Akhirnya dibukalah kelas MTs Sururon dengan sarana dan sumber daya seadanya. Selama satu tahun pertama proses belajar mengajar terhadap 150 siswa di MTs ini dilakukan dengan cara lesehan di lantai dalam dua ruangan.
"Kami juga bingung menghadapi jumlah anak yang begitu bersemangat mengikuti pendidikan. Saya melihat ada banyak harapan dari mereka, sehingga mereka tidak lagi memedulikan kondisi," paparnya. Untuk kurikulum pendidikan, mereka mengadopsi pola yang diberlakukan oleh Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional.
Selain itu, kebutuhan lingkungan masyarakat yakni di bidang pertanian juga diintegrasikan. Banyak materi yang lebih aplikatif dan mudah dipahami oleh anak didik disisipkan dalam pengajaran. Artinya, meski mengacu pada kurikulum, namun pendidikan di sini tidak mengikuti pakem yang ditentukan birokrasi pendidikan.
"Misalnya kami berbicara tentang air, mengapa air di sini jadi berkurang. Kemudian kenapa marak masyarakat desa yang pergi ke kota, kami bicarakan itu. Secara tidak langsung, misalnya, mereka jadi sadar mengapa tingkat perkawinan dini di desa mereka sangat tinggi," ungkapnya.
Para peserta didik itu memang tidak dipungut biaya alias gratis. Biaya operasional sekolah didukung oleh organisasi SPP, melalui gotong-royong anggota yang juga orang tua dari para siswa. Semangat kebersamaan masyarakat petani di Desa Sarimukti kemudian berlanjut saat pembangunan gedung sekolah sendiri. Melalui pinjaman lahan milik Pondok Pesantren Sururon akhirnya dibangunlah gedung sendiri dengan desain sendiri.
"Ini semua masyarakat yang memusyawarahkan, apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan, mereka juga yang secara bersama-sama mengelolanya. Mulai kayu, batu, semua dari partisipasi masyarakat," katanya.
Uniknya, karena dibangun sendiri oleh warga, masyarakat bebas membuat rancangan bangunannya. Bahan-bahannya kayu dan bambu, dibangun di atas kolam ikan. Letak geografis kampung yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dan suhu udara yang dingin, membuat Desa Sarimukti memang cocok menjadi lokasi peternakan ikan nila, emas, dan lainnya.
Untungnya anak-anak sangat menikmati belajar di ruangan baru tersebut. "Kolam di bawah ruangan kelas dipakai sebagai laboratorium bagi anak-anak belajar sekaligus sebagai sumber penghasilan. Bahkan untuk pemenuhan gizi anak," lanjut Ridwan.
Saat ini MTS Sururon telah memiliki empat ruangan, tiga di antaranya ruang kelas dan satu lainnya dijadikan sebagai kantor sekretariat, ruang praktik komputer, ruang guru, dan perpustakaan. Pada awalnya hanya 3 orang guru yang intens terlibat, tapi kini sudah ada 23 tenaga pengajar. Di samping untuk MTs, mereka mengajar SMK pertanian yang baru berjalan dua tahun, dan untuk pendidikan anak usia dini.
"Kebanyakan tenaga pengajar di sini orang lokal. Mereka ada yang lulusan SD, SMP, atau hanya SMA. Menurut pemahaman kami, dalam pendidikan ini yang diutamakan bukan teori, melainkan aplikasinya. Dalam bidang pertanian tentu saja pakarnya adalah para petani sendiri atau warga setempat," kata Ridwan memberi alasan.
Hingga saat ini sekolah alternatif Sururon telah memiliki sekitar 200 murid. Dari jumlah itu 45 siswa belajar di SMK.
Sumber : http://news.okezone.com


0 komentar:
Posting Komentar